
SERAMBINEWS.COM,LHOKSUKON – Dengan memegang cangkul, sekop, dan kereta sorong, ratusan relawan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh bersama dosen pendamping turun langsung membersihkan lumpur banjir di jalan dan rumah warga Gampong Blang Peuria, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, Kamis (18/12/2025).
Aksi pembersihan ini dilakukan mahasiswa dan relawan gabungan sebagai bentuk dukungan sebagai upaya pemulihan pasca banjir bandang.
Amatan Wartawan Serambinews.com, kondisi Blang Peuria yang berada di lintasan jalan nasional berbatasan dengan Kecamatan Syamtalira Bayu di sebelah baratnya. Dari 40 desa di kecamatan Samudera, Blang Peuria termasuk salah satu desa yang parah dihantam banjir pada 26-28 November 2025.
Selain merusak bangunan warga, infrastruktur seperti jalan dan Pipa Perumda Tirta Pase, kemudian Makoramil, gedung sekolah, puskesmas dan Kantor Camat juga ikut terendam dan terendam dengan ketinggian mencapai 2 meter.
Setelah banjir surut, jalan, rumah dan bangunan terdapat lumpur padat dengan ketebalan bervariasi 50 sampai 100 sentimeter atau satu meter. Kondisi menyebabkan warga kesulitan membersihkan secara manual.
Karena relawan FISIP Unimal melakukan aksi pembersihan salah satunya di desa Blang Peuria.
Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni FISIP Unimal sekaligus Koordinator Relawan Mahasiswa, Dr Taufik Abdullah, MA kepada Serambinews.com, Jumat (19/12/2025), mengatakan keterbatasan tenaga dan peralatan menjadi tantangan utama dalam aksi pembersihan tersebut.
“Secara realistis, kita tidak mampu mengangkat lumpur dari rumah ke rumah untuk satu gampong dalam satu hari. Paling hanya lima sampai tujuh rumah, apalagi dukungan peralatan dan fasilitas masih sangat terbatas,” ujar Taufik.
Ia menjelaskan, ketebalan lumpur di rumah warga rata-rata mencapai satu meter, bahkan lebih di beberapa titik, sehingga membutuhkan tenaga ekstra.
Karena itu, relawan memprioritaskan pembersihan jalan dan lorong agar akses warga menuju rumah kembali terbuka dan tidak lagi dilalui lumpur.
“Bayangkan lumpur setinggi itu mengendap di dalam rumah. Maka yang kita utamakan adalah membersihkan sampah dan lumpur di jalan agar aktivitas warga bisa kembali berjalan,” katanya.
Taufik juga mengapresiasi semangat mahasiswa yang terlibat sebagai relawan. Menurutnya, aksi kemanusiaan ini menjadi pembelajaran penting bagi mahasiswa untuk menyelami langsung duka dan penderitaan masyarakat terdampak bencana.
“Kita ingin mahasiswa benar-benar merasakan dan memahami musibah ini. Mereka harus siap berlumpur-lumpur, karena di situlah nilai empati dan kemanusiaan itu tumbuh,” ujarnya.
Selain fokus pada pembersihan, Relawan Mahasiswa FISIP Unimal juga diharapkan mengedepankan pendekatan humanis melalui aksi sapa, senyum, dan dukungan moral kepada warga.
Taufik menegaskan pihaknya tidak melarang penggalangan bantuan, namun meminta seluruh aksi dilakukan secara tertib dan santun.
“Beragam aksi relawan tentu kita apresiasi, tetapi tetap harus terkoordinasi dan menjaga etika. Kita ingin aksi kemanusiaan ini berjalan aman dan bermartabat,” tegasnya.
Ia menambahkan, relawan mahasiswa FISIP Unimal terkoordinasi dalam enam himpunan program studi. Karena jumlah mahasiswa yang ingin terlibat cukup banyak, maka dibentuk kelompok-kelompok aksi dengan berbagai nama, namun tetap mengibarkan identitas FISIP Unimal sebagai rumah bersama.
Terkait isu konversi nilai atau pembebasan KKN bagi relawan, Taufik menegaskan bahwa mahasiswa harus terlibat dengan niat tulus.
“Saya selalu mengingatkan, menjadi relawan itu harus ikhlas dan tulus, bukan karena konversi nilai atau bebas KKN,” katanya.
Aksi relawan FISIP Unimal tidak hanya berfokus pada penyaluran sembako, tetapi juga memberikan dukungan emosional serta pendokumentasian visual kondisi warga terdampak banjir.
“Kami datang hari ini bukan hanya membawa bantuan logistik, tetapi membawa tangan untuk bekerja dan telinga untuk mendengar. Melihat senyum warga saat jalan dan rumahnya kembali bersih adalah tujuan utama kami,” ujar Taufik.
Aksi kemanusiaan tersebut dikemas dalam konsep Support Senyum, Sapa, dan Bersih-bersih Rumah Warga, serta pendokumentasian harapan warga sebagai bentuk simpati dan empati. Relawan masuk langsung ke pemukiman warga untuk mendengarkan keluh kesah dan membantu pemulihan mental pascatrauma.
Selain itu, relawan mahasiswa juga melakukan wawancara dan perekaman video untuk mengabadikan kisah perjuangan warga, mulai dari detik-detik banjir datang, proses evakuasi, hingga harapan mereka saat kembali ke rumah setelah air surut.
Dokumentasi ini diharapkan menjadi bahan advokasi agar kebutuhan warga pada masa pemulihan dapat didengar oleh para pemangku kebijakan.
Hingga kini, warga Blang Pria masih kesulitan membersihkan sisa material banjir dengan peralatan seadanya. Bahkan, 25 hari pasca banjir, lumpur masih mengendap di rumah-rumah warga, kondisi yang dinilai cukup memprihatinkan, terlebih menjelang bulan Ramadan.
Lingkungan permukiman yang bau sampah, sumur tercemar, serta tempat ibadah yang masih berlumpur membuat aktivitas ibadah warga terganggu.
Saat ini warga sangat membutuhkan peralatan kebersihan seperti sekop, sikat, cairan disinfektan, air bersih, pompa air, alat penyedot sumur, serta mesin penyemprot air untuk membersihkan lumpur yang telah mengeras.
Aksi langsung pembersihan rumah dan pembukaan akses jalan yang dilakukan Relawan Mahasiswa FISIP Unimal mendapat apresiasi dari warga. Kehadiran relawan dinilai tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberi semangat baru bagi warga terdampak.
“Kedatangan mereka bukan hanya membawa sembako, tetapi juga membawa tenaga dan harapan baru bagi kami setelah sekian hari dilanda duka,” ujar Saryulis, warga Gampong Blang Pria.(*)



